Malanove

Just Keumala with Love

Antara Presiden dan Pers

Beberapa hari yang lalu, aku membaca salah satu wall post yang dikirimkan oleh salah satu teman di group facebook. Tak ayal, karena penasaran dan tertarik dengan tulisannya, aku pun membaca dengan teliti. Ternyata tulisannya berhubungan dengan presiden dan pers. Berikut tulisan yang di post oleh temanku itu :

Tadi siang, teman saya, Kak Clara Endah Triastuti mengupload sebuah foto lucu. Foto itu adalah foto cuplikan wawancara SBY dengan wartawan media yang beberapa hari lalu ditayangkan di TV One. Ada yang lucu di foto itu. Di foto itu, terlihat kesalahan typo (kesalahan penulisan) yang dilakukan oleh pihak TV One dalam memberikan judul untuk temu wawancara antara SBY dengan para watawan. Di nama acara yang ada di TV One itu, tertulis “Pesinden Bicara”, yang seharusnya tertulis “Presiden Bicara”. Saya tidak tahu lagi bagaimana kelanjutan dari kasus typo yang dilakukan oleh pihak TV One ini, apakah berbuntut penuntutan permintaan maaf, ataukah berbuntut pada tuntutan hukum.

Oh ya, konon, di kalangan Purnawirawan Jendral, SBY tak dipanggil dengan panggilan SBY, Susilo ataupun Yudhoyono. Tapi, bagi kalangan mantan petingi militer itu, SBY dipanggil dengan sebutan “Si Susi”. “Si Susi” adalah nama yang mereka sematkan untuk SBY yang diadopsi dari kata depan namanya, yaitu “Susilo” dan disingkat menjadi “Susi”, sehingga menjadi “Si Susi”.
…………………………

Jika benar ini hanya sebuah kesalahan typo yang tak sengaja dilakukan oleh pihak TV One, tentu hal ini bisa dimaklumi, tapi jika pun kesalahan ini (menyebut SBY yang seorang Presiden dengan sebutan Pesinden) ini benar, bagi saya sendiri hal ini juga sesuatu yang perlu dimaklumi juga.

Bagi saya, pihak TV One itu tak salah juga. Kenyataannya, tak ada yang memungkiri jika seseorang yang telah menelurkan 4 album tak layak disebut sebagai “Pesinden”. 4 Album bisa menjadi pembuktian bagaimana sepak terjang dan produksitifitas seseorang dalam melahirkan karya musik.

Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan satu eks tabloid publikasi kegiatan milik Kemenlu RI (Kementrian Luar negeri) yang diberi nama Tabloid Diplomasi. Kampus saya rutin dikirimi tabloid publikasi kegiatannya ini oleh Kemenlu. Ketika membaca isi tabloid Diplomasi milik Kemenlu yang terakhir saya dapatkan, tajuk bahasan isi tabloid Diplomasi itu berisi tentang laporan pertemuan Bali Concord II, pertemuan ini adalah KTT Asean, lanjutan dari pertemuan Bali Concord sebelumnya.

Di salah satu laporan di rubrik mengenai pertemuan Bali Concord itu, ada satu hal yang unik bagi saya. Di salah satu halaman tabloid Diplomasi milik Kemenlu itu, ada foto seorang peserta pertemuan Bali Concord II yang sedang melihat-lihat salah satu stand yang ada di acara pertemuan itu. Stand yang dikunjungi oleh peserta luar negeri itu adalah stand yang di dalamnya memamerkan semua koleksi album milik SBY, Presiden Indonesia yang menurut TV One adalah seorang “Pesinden” itu. Pihak panitia menghkususkan membuat satu stand untuk memajang semua koleksi album SBY, lengkap dengan penjelasan, poster hingga disediakan headset untuk dapat mencoba mendengarkan beberapa lagunya.

Tak hanya di acara Bali Concord II itu saja. Di Acara pembukaan dan panutupan Sea Games yang beberapa waktu lalu di langsungkan di Palembang, Lagu SBY juga mendaptakan apresiasi yang tinggi. lagu SBY dinyanyikan dengan apik oleh jebolan indonesian idol pertama, Joel tobing.

Tak hanya di Indonesia, kepopuleran Album dan lagu SBY juga sudah mendunia. Di KTT APEC 2011 yang berlangsung di Hawaii, lagu ciptaan SBY diperdengarkan kepada peserta KTT. Ini menegaskan betapa populisnya SBY selain sebagai presiden, ia juga berprofesi sebagai pencipta lagu dan biduan. Di forum itu, sampai-sampai Michael Oreskes, senior managing editor Assosiated Pers yang saat itu bertindak sebagai moderator diskusi CEO Summit menanyakan kepada SBY; “Kok bisa-bisanya Anda memiliki waktu untuk bermusik?” tanya Oreskes sambil memperlihatkan CD album ke-4 SBY. Hal ini membuktikan betapa populisnya SBY sebagai “Pesinden”, sampai-sampai CD album rekamannya pun dimiliki oleh managing Editor AP, Kantor berita terbesar di dunia.
……………………………..

Oh ya, mengenai typo yang dilakukan oleh pihak TV One. Jika diperhatikan, hal ini kemungkinan juga bisa disebabkan oleh kenyataan bahwa pihak TV One memang mewakili suatu institusi yang memiliki hubungan tak begitu baik dengan kubu SBY. Dan ini mungkin.

Beberapa tahun lalu, ketika mengikuti PJTD di Ukm Pers Detak Unsyiah. Salah satu abang leting yang menjadi pemateri di PJTD itu pernah bercerita tentang pengalamannya di media. Kebetulan si abang leting itu adalah seorang layouter di salah satu koran terbesar terbitan di Aceh. Ia menceritakan kepada kami pengalamannya bagaimana “kenakalannya” di media saat ia tak suka dengan seseorang yang menjadi narasumber berita.

Ia menjelaskan kepada kami, jika saat ia men-layout halaman koran dan di halaman itu ada nama atau foto head shot dari seseorang, baik tokoh atau pejabat yang tak ia sukai, maka kadang kala ia dengan sengaja tak memuat nama si tokoh itu, terkadang juga memuat foto sang tokoh yang paling jelek, atau pilihan lainnya, ia mengganti nama tokoh itu dengan nama tokoh yang lain. Ini trik yang dilakukan oleh pihak pekerja media sepertinya ketika profesionalitas mereka berbenturan dengan rasa tidak senangnya mereka kepada seseorang.

Bagi saya, yang terjadi pada kasus SBY yang disebut oleh TV One sebagai “Pesinden” dan bukannya “Presiden” itu, kasusnya hampir sama seperti apa yang diceritakan oleh abang leting saya itu. Apa yang terjadi di TV One bisa jadi adalah ungkapan ketidaksukaan, terlepas apakah hal ini adalah sebuah ketidaksengajaan.

Bagi saya, dalam hal ini, ketika publisitas tentang SBY tak jelas lagi, disaat apa yang dahulu diucap saat kampanye berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan saat ini, bagi saya apa yang “dilakukan” oleh pihak TV One dengan kasus typonya itu sedikit banyak tekah menyadarkan kita, jika sebenarnya mau tidak mau kita harus mengakui jika Presiden yang selama ini sedang memerintah negeri ini adalah seorang “Pesinden” yang dalam bahasa Jawa berrarti penyanyi perempuan.

Para Purnawirawan Jenderal itu tak salah dalam memilih nama. Panggilan nama “Si Susi” begitu cocok untuk menjadi perwakilan dari perasaan masyarakat yang seperti apa yang dituliskan oleh TV One dipimpin oleh seorang Pesinden.

Seorang “Pesinden” yang dalam tempo 7 tahun masa pemerintahannya telah mencatat pertambahan 1.300 Triliun Rupiah hutang baru untuk Indonesia.

 

Sumber : Tadi siang, teman saya, Kak Clara Endah Triastuti mengupload sebuah foto lucu. Foto itu adalah foto cuplikan wawancara SBY dengan wartawan media yang beberapa hari lalu ditayangkan di TV One. Ada yang lucu di foto itu. Di foto itu, terlihat kesalahan typo (kesalahan penulisan) yang dilakukan oleh pihak TV One dalam memberikan judul untuk temu wawancara antara SBY dengan para watawan. Di nama acara yang ada di TV One itu, tertulis “Pesinden Bicara”, yang seharusnya tertulis “Presiden Bicara”. Saya tidak tahu lagi bagaimana kelanjutan dari kasus typo yang dilakukan oleh pihak TV One ini, apakah berbuntut penuntutan permintaan maaf, ataukah berbuntut pada tuntutan hukum.

Oh ya, konon, di kalangan Purnawirawan Jendral, SBY tak dipanggil dengan panggilan SBY, Susilo ataupun Yudhoyono. Tapi, bagi kalangan mantan petingi militer itu, SBY dipanggil dengan sebutan “Si Susi”. “Si Susi” adalah nama yang mereka sematkan untuk SBY yang diadopsi dari kata depan namanya, yaitu “Susilo” dan disingkat menjadi “Susi”, sehingga menjadi “Si Susi”.
…………………………

Jika benar ini hanya sebuah kesalahan typo yang tak sengaja dilakukan oleh pihak TV One, tentu hal ini bisa dimaklumi, tapi jika pun kesalahan ini (menyebut SBY yang seorang Presiden dengan sebutan Pesinden) ini benar, bagi saya sendiri hal ini juga sesuatu yang perlu dimaklumi juga.

Bagi saya, pihak TV One itu tak salah juga. Kenyataannya, tak ada yang memungkiri jika seseorang yang telah menelurkan 4 album tak layak disebut sebagai “Pesinden”. 4 Album bisa menjadi pembuktian bagaimana sepak terjang dan produksitifitas seseorang dalam melahirkan karya musik.

Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan satu eks tabloid publikasi kegiatan milik Kemenlu RI (Kementrian Luar negeri) yang diberi nama Tabloid Diplomasi. Kampus saya rutin dikirimi tabloid publikasi kegiatannya ini oleh Kemenlu. Ketika membaca isi tabloid Diplomasi milik Kemenlu yang terakhir saya dapatkan, tajuk bahasan isi tabloid Diplomasi itu berisi tentang laporan pertemuan Bali Concord II, pertemuan ini adalah KTT Asean, lanjutan dari pertemuan Bali Concord sebelumnya.

Di salah satu laporan di rubrik mengenai pertemuan Bali Concord itu, ada satu hal yang unik bagi saya. Di salah satu halaman tabloid Diplomasi milik Kemenlu itu, ada foto seorang peserta pertemuan Bali Concord II yang sedang melihat-lihat salah satu stand yang ada di acara pertemuan itu. Stand yang dikunjungi oleh peserta luar negeri itu adalah stand yang di dalamnya memamerkan semua koleksi album milik SBY, Presiden Indonesia yang menurut TV One adalah seorang “Pesinden” itu. Pihak panitia menghkususkan membuat satu stand untuk memajang semua koleksi album SBY, lengkap dengan penjelasan, poster hingga disediakan headset untuk dapat mencoba mendengarkan beberapa lagunya.

Tak hanya di acara Bali Concord II itu saja. Di Acara pembukaan dan panutupan Sea Games yang beberapa waktu lalu di langsungkan di Palembang, Lagu SBY juga mendaptakan apresiasi yang tinggi. lagu SBY dinyanyikan dengan apik oleh jebolan indonesian idol pertama, Joel tobing.

Tak hanya di Indonesia, kepopuleran Album dan lagu SBY juga sudah mendunia. Di KTT APEC 2011 yang berlangsung di Hawaii, lagu ciptaan SBY diperdengarkan kepada peserta KTT. Ini menegaskan betapa populisnya SBY selain sebagai presiden, ia juga berprofesi sebagai pencipta lagu dan biduan. Di forum itu, sampai-sampai Michael Oreskes, senior managing editor Assosiated Pers yang saat itu bertindak sebagai moderator diskusi CEO Summit menanyakan kepada SBY; “Kok bisa-bisanya Anda memiliki waktu untuk bermusik?” tanya Oreskes sambil memperlihatkan CD album ke-4 SBY. Hal ini membuktikan betapa populisnya SBY sebagai “Pesinden”, sampai-sampai CD album rekamannya pun dimiliki oleh managing Editor AP, Kantor berita terbesar di dunia.
……………………………..

Oh ya, mengenai typo yang dilakukan oleh pihak TV One. Jika diperhatikan, hal ini kemungkinan juga bisa disebabkan oleh kenyataan bahwa pihak TV One memang mewakili suatu institusi yang memiliki hubungan tak begitu baik dengan kubu SBY. Dan ini mungkin.

Beberapa tahun lalu, ketika mengikuti PJTD di Ukm Pers Detak Unsyiah. Salah satu abang leting yang menjadi pemateri di PJTD itu pernah bercerita tentang pengalamannya di media. Kebetulan si abang leting itu adalah seorang layouter di salah satu koran terbesar terbitan di Aceh. Ia menceritakan kepada kami pengalamannya bagaimana “kenakalannya” di media saat ia tak suka dengan seseorang yang menjadi narasumber berita.

Ia menjelaskan kepada kami, jika saat ia men-layout halaman koran dan di halaman itu ada nama atau foto head shot dari seseorang, baik tokoh atau pejabat yang tak ia sukai, maka kadang kala ia dengan sengaja tak memuat nama si tokoh itu, terkadang juga memuat foto sang tokoh yang paling jelek, atau pilihan lainnya, ia mengganti nama tokoh itu dengan nama tokoh yang lain. Ini trik yang dilakukan oleh pihak pekerja media sepertinya ketika profesionalitas mereka berbenturan dengan rasa tidak senangnya mereka kepada seseorang.

Bagi saya, yang terjadi pada kasus SBY yang disebut oleh TV One sebagai “Pesinden” dan bukannya “Presiden” itu, kasusnya hampir sama seperti apa yang diceritakan oleh abang leting saya itu. Apa yang terjadi di TV One bisa jadi adalah ungkapan ketidaksukaan, terlepas apakah hal ini adalah sebuah ketidaksengajaan.

Bagi saya, dalam hal ini, ketika publisitas tentang SBY tak jelas lagi, disaat apa yang dahulu diucap saat kampanye berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan saat ini, bagi saya apa yang “dilakukan” oleh pihak TV One dengan kasus typonya itu sedikit banyak tekah menyadarkan kita, jika sebenarnya mau tidak mau kita harus mengakui jika Presiden yang selama ini sedang memerintah negeri ini adalah seorang “Pesinden” yang dalam bahasa Jawa berrarti penyanyi perempuan.

Para Purnawirawan Jenderal itu tak salah dalam memilih nama. Panggilan nama “Si Susi” begitu cocok untuk menjadi perwakilan dari perasaan masyarakat yang seperti apa yang dituliskan oleh TV One dipimpin oleh seorang Pesinden.

Seorang “Pesinden” yang dalam tempo 7 tahun masa pemerintahannya telah mencatat pertambahan 1.300 Triliun Rupiah hutang baru untuk Indonesia.

Sumber : https://www.facebook.com/detakunsyiah oleh Muda Bentara

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: