Malanove

Just Keumala with Love

Like A Candle

Malam itu aku sedang asyik berselancar dengan lautan kata-kata yang ingin mendesak keluar dari pikiran. Aku begitu menikmat malam yang sunyi itu sambil menemani pena yang menari-nari riang diatas kertas putih. Tapi,  tiba-tiba lampu di kamarku berkedip-kedip. Kupikir hanya sedikit korslet. Tapi tak berapa lama kemudian, ternyata…..

Blasss!!

Padam…gelap gulita…

Semuanya gelap gulita. Aku bahkan tak bisa lagi melihat kertas dan pena yang baru saja kuletakkan di samping meja belajar. Aku bingung..

Saat itu tak ada satu pun keriuhan malam yang terdengar. Hanya nyanyian jangkrik yang sepertinya sumringah menyambut malam yang kian sendu.

Sreett…srrett..

Sayup-sayup  angin kecil menyibak tirai jendela kamar ..

Dingin malam pun menusuk tulangku… sejurus kulihat rembulan dari dalam kamar. Mungkin hanya bulan yang dapat menyampaikan rasa rinduku selain sekedar menulis kata-kata diatas kertas. Ternyata saat itu rembulan juga malu memancarkan sinarnya. Kegelapan malam itu membuatku semakin merasakan kesepian.. nafasku sesak…kegelapan terasa seperti menutup saluran pernapasanku! Aku masih saja sendiri..tak berdaya….

Ku nyalakan sebatang lilin dengan hati-hati. Entah mengapa, angin tak lagi berhembus. Hingga membuat cahayanya begitu begitu tenang…begitu indah..

Tak puas memandang dari jauh, aku pun mendekat lilin itu. Sinarnya terang, tapi aku masih saja sendiri..begitu sepi..hanya cahaya lilin yang terlihat..hanya cahaya lilin yang menemani..

Tak ayal, aku meneteskan air mata. Merenungi tentang noda hitam akibat kesombongan dan keegoisan tak jelas yang kulakukan selama ini.

Ku  biarkan rembesan air mata jatuh. Tak inginku tahan. Biarlah rasa sakit dan kesepian yang kurasakan selama ini sirna bersama air mata yang merembes keluar.

Kembali kulihat lilin. Lilin itu semakin kecil dan redup. Api yang tenang itu ternyata membuatnya semakin kecil. Ia rela memberikan cahaya meski harus membakar dirinya sendiri.

Aku merenungi lagi. Apakah ada lilin yang senantiasa menerangi hatiku kini? Sepertinya mustahil, karena selama ini aku bodoh berharap pada seseorang yang sama sekali tidak butuh pengharapan.

Aku gelisah, apa yang terjadi jika lilin itu padam? Kemana aku harus mencari cahaya? Gelap? Makin gelap? Apa juga akan membuat hatiku semakin kelam?

Tersadar..

Ternyata lilin memberiku pelajaran hidup. Cahaya lilin itu bagai keimanan pada Allah. Bahwa aku tidak pernah sendiri. Allah selalu ada didekat hamba-Nya. Hidayah yang ia berikan mencerahkan dan menentramkan jiwa. Bahkan menjadi petunjuk untuk hatiku yang terkadang buta akan kenikmatan hidup. Seperti cinta yang fana….

Meski tak ada seorang pun yang tahu dan peduli, Allah selalu melihat hamba-nya dan mendengarkan pengharapan hati yang tak sampai.

Sekarang, biarkan aku menangis.. mencurahkan tentang rasa yang terbelenggu dan terpendam jauh di lubuk hati. Biarkan aku menjaga cahaya lilin itu agar tetap hidup. Seperti Nur-Illalhi yang menerangi hati. Bahkan sampai lilin itu padam. Meski gelap mengutuk jiwa yang lemah ini..

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: